• GK-Plug and Play

Terdampak Pandemi, Ini Dukungan dan Strategi Venture Capital pada Portofolio

DailySocial | 21 Juli 2020

Pandemi telah memukul dan berdampak negatif pada berbagai sektor. Sektor ekonomi jadi bidang yang mendapat pukulan terberat, tidak hanya menimpa perusahaan besar, namun juga jenis perusahaan rintisan (startup). Pandemi yang berkepanjangan terpaksa harus menunda kegiatan penggalangan dana yang biasanya secara aktif dilakukan oleh venture capital asing dan lokal di Indonesia. Meskipun demikian masih ada beberapa VC yang tetap melakukan kegiatan tersebut, dengan menerapkan proses kurasi startup yang lebih ketat dan fokus, menyesuaikan kondisi saat ini.


Dalam webinar yang mengusung topik "Portfolio Management During COVID-19” pada 10 Juli 2020 lalu, bersama GK-Plug and Play, Alpha Momentum Indonesia, UMG IdeaLab, dan Venturra Discovery, beberapa VC lainnya memberikan tips dan pengalaman manajemenn portofolio mereka bagaimana momen pandemi ini bisa menjadi kesempatan untuk mengetahui kekuatan dan potensi startup.


Waktu yang tepat untuk slow down

Menurut Senior Investment Analyst Monk’s Hill Ventures RJ Balmater, saat ini menjadi waktu yang tepat bagi VC untuk melonggarkan ikat pinggang sekaligus fokus kepada vertikal bisnis yang tepat dan terbaik untuk investasi. Di sisi lain RJ juga melihat bagi startup juga bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menyimak kembali keunggulan dari perusahaan dan tentunya model bisnis yang dimiliki.


“Pada akhirnya VC ingin berinvestasi kepada startup yang memiliki bisnis yang sehat bukan sekadar apakah mereka bisa survive di kondisi saat ini,” kata RJ.


Serupa dengan RJ, VP Investment Kejora-SBI Orbit Fund Richie Wirjan, bukan hanya melihat key market, penundaan investasi yang sekarang banyak dilakukan juga bisa dimanfaatkan VC untuk melihat lebih mendalam, kekuatan yang dimiliki oleh startup, baik yang ada dalam portofolio atau mereka yang sebelumnya sudah dilirik dan memiliki potensi.


Dukungan moral dan jaringan VC

Hal lain yang menjadi prioritas VC saat pandemi adalah, dukungan moral hingga jaringan luas yang dimiliki, guna membantu startup hingga founder. Untuk Arya, semua founder yang tergabung dalam portofolio miliknya berhak untuk mendapatkan dukungan konsultasi secara one-on-one hingga konsultasi khusus oleh psikolog. Hal ini dilakukan untuk memastikan kesehatan mental para founder, yang kerap tertekan mengurusi startup saat pandemi berlangsung.


Bagi Kejora dan SBI yang selama ini sudah menjalankan bisnis lebih dari sekedar VC, memastikan untuk terus memberikan dukungan kepada ekosistem. Bukan hanya kepada investasi baru namun juga mereka yang sudah masuk ke dalam pipe line.


“Kita tidak mau meninggalkan mereka, cara terbaik adalah menghubungkan mereka dengan ekosistem kita. Apakah melalui pengerjaan pilot project, hal ini kami lakukan untuk memastikan mereka bisa tetap menjalankan bisnis. Dari situ nantinya kita akan bicarakan kembali apakah ada langkah investasi lanjutan atau tidak,” kata Richie.


Memanfaatkan teknologi dan tools yang tepat, semua portofolio di Monk’s Hill bisa memanfaatkan jaringan komunikasi antar sesama founder untuk melakukan konsultasi dan kemungkinan untuk kolaborasi. Pihak VC juga siap untuk membantu semua startup agar terus bisa memberikan dukungan. Monk’s Hill juga melakukan organisasi data yang bertujuan untuk melihat secara keseluruhan portofolio yang dimiliki dan KPI dari masing-masing startup.


Diversifikasi dan keputusan untuk menutup bisnis

Saat pandemi mulai banyak startup yang melakukan diversifikasi dengan menghadirkan layanan baru atau melakukan pivoting menyesuaikan kondisi saat ini dan agar tetap bisa relevan. Menurut Richie, hal ini sah-sah saja dilakukan, asal startup bisa memastikan ketika pada akhirnya pandemi berakhir, bisnis baru yang dihadirkan bisa terus berjalan. Bukan sekedar memanfaatkan momentum saja.


Terkait dengan keputusan dari startup untuk memberhentikan bisnis mereka, akibat dari pandemi, masing-masing VC mengklaim mengalami beberapa kegagalan dari portofolio yang dimiliki. Kondisi ini memang tidak bisa dipungkiri, cara tepat yang kemudian bisa dilakukan adalah, apakah startup bisa menerapkan cara yang lean atau kemudian benar-benar memberhentikan startup mereka.


“Pada akhirnya ketika pengurangan pegawai atau keputusan lainnya yang harus diambil menjadi bijaksana untuk dilakukan. Jika proses atau langkah tersebut bisa membantu startup untuk bisa survive,” kata RJ.


Strategi agar startup mendapatkan pendanaan selama pandemi?

Pitching tak lagi semudah sebelum pandemi. Venture capital (VC) lebih berhati-hati dan ketat menyeleksi calon penerima dananya. Untuk itu, startup harus lebih cerdas dalam memproyeksikan bisnisnya di depan VC. Model bisnis yang dipaparkan harus lebih relevan dengan situasi saat ini. Mirisnya, menurut Richie, masih banyak startup yang sekadar mengirimkan proposal bisnisnya dengan ide-ide yang kurang relevan.


“Selama pandemi, VC banyak mendapatkan pitch karena startup butuh yang. Ada banyak cold email. Selain profil perusahaannya, menurut saya proyeksi bisnisnya penting. Beberapa perusahaan yang sudah kami review, proyeksinya tidak berubah, seperti tidak ada krisis. Pertumbuhan yang mereka rencanakan masih 10 kali,” ujar Richie.


“Menurut saya, angkanya harus nyata. Kalau angkanya tidak masuk akal, VC akan berpikir ulang. Ingat, ini bisnis, ini investasi. Startup berpikir karena customer behaviour berubah, mereka bisa melakukan ini dan itu. Tapi, angka adalah angka. Kalau proyeksinya tidak tepat, finansialnya meragukan, lebih baik diskusikan lagi dengan tim,” jelasnya.


Original Article

-

  • Innovation

-

  • Startup Accelerator

-

  • Venture Capital

gkpnp-events.com

GK-Plug and Play Indoensia

Join Our Newsletter!

new logo white.png
  • Facebook
  • LinkedIn Social Icon
  • YouTube
  • clip-art-image-logo-computer-icons-vecto